KECERDASAN SPIRITUAL ( SPIRITUAL INTELLIGENCE )

KECERDASAN SPIRITUAL ( SPIRITUAL INTELLIGENCE)

 

Pengertian Kecerdasan Spiritual

 Kecerdasan (dalam bahasa Inggris disebut intelligence dan hahasa Arab disebut al-dzaka`) menurut arti bahasa adalah pemahaman, kecepatan, dan kesempurnaan sesuatu. Dalam arti, kemampuan (alqudrah) dalam memahami sesuatu secara cepat dan sempurna. Begitu cepat penangkapannya itu sehingga Ibnu Sina, seorang psikolog falsafi, menyebut kecerdasan sebagai kekuatan intuitif (al-badlsj (Mujib, 2001).

Dalam pengertian yang lebih luas, William Stern, yang dikutip oleh Crow and Crow (1984), mengemukakan bahwa inteligensi berarti kapasitas umum dari seorang individu yang dapat dilihat pada kesanggupan pikirannya dalam mengatasi tuntutan kebutuhan-kebutuhan baru, keadaan ruhaniah secara umum yang dapat disesuaikan dengan problema-problema dan kondisi-kondisi yang baru di dalam kehidupan.

Pengertian ini tidak hanya menyangkut dunia akademik, tetapi lebih luas, menyangkut kehidupan non-akademik, seperti masalah-masalah artistik dan tingkah. Sebelum membicarakan lebih jauh tentang kecerdasan Spiritual disini akan diterangkan sedikit tentang agama adalah salah satu kebutuhan manusia. Manusia disebut sebagai mahluk yang beragama (homo religious) Yamani (dalam Jalaludin, 2002) mengemukakan tatkala Allah membekali insan itu dengan nikmat berpikir dan daya penulisan, diberikan pula rasa bingung dan bimbang untuk memahami dan belajar mengenai alam sekitarnya sebagai imbangan atas rasa takut terhadap kegarangan dan kebengisan alam itu.

Dalam ajaran agama Islam bahwa adanya kebutuhan terhadap agama disebabkan manusia selaku mahluk Tuhan yang dibekali dengan berbagai potensi (fitrah) yang dibawa sejak lahir. Salah satu fitrah itu adalah kecenderungan terhadap agama, dan ini sesuai dengan firman Allah SWT. Sebagai berikut:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah). Tetapkanlah atas fitrah

Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya. (QS-al-Rum:30)

Tasmara (2001) Mengatakan kecerdasan ruhaniah sangat erat kaitannya dengan cara dirinya mempertahankan prinsip lalu bertangung jawab untuk melaksankan prinsipprinsipnya itu dengan tetap menjaga keseimbangan dan melahirkan nilai manfaat yang berkesesuaian. Prinsip merupakan fitrah paling mendasar bagi harga diri manusia. Nilai takwa atau tanggung jawab merupakan ciri seorang profesional. Mereka melangar prinsip dan menodai hati nurani merupakan dosa kemanusiaan yang paling ironis.

Sementara Tasmara (2001). Mengatakan kecerdasan ruhaniah adalah kecerdasan yang paling sejati tentang kearifan dan kebenaran serta pengetahuan Ilahi. Kecerdasan ini dapat menimbulkan kebenaran yang sangat mendalam terhadap kebenaran, sedangkan kecerdasan lainya lebih bersifat pada kemampuan untuk mengelola segala hal yang berkaitan dengan bentuk lahiriah (duniawi). Oleh sebab itu mujib (2001) mendefinisikan kecerdasan Spiritual sebagai “kecerdasan qalbu yang berhubungan dengan kualitas batin seseorang. Kecerdasan ini mengarahkan seseorang untuk berbuat lebihmanusiawi, sehingga dapat menjangkau nilai-nilai luhur yang mungkin belum tersentuh oleh akal fikiran manusia”.

Aspek-Aspek kecerdasan Spiritual

 a. Shiddiq

Salah satu dimensi kecerdasan ruhaniah terletak pada nilai kejujuran yang merupakan mahkota kepribadian orang-orang mulia yang telah dijanjikan Allah akan memperoleh limpahan nikmat dari-Nya. Seseorang yang cerdas secara ruhaniah, senantiasa memotivasi dirinya dan berada dalam lingkungan orang-orang yang memberikan makna kejujuran, sebagai mana firma-Nya :

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama

orang-orang yangbenar( jujur)”. (At-Taubah:119)

b. Istiqamah

Istiqamah diterjemahkan sebagai bentuk kualitas batin yang melahirkan sikap konsisten (taat azas) dan teguh pendirian untuk menegakkan dan membentuk sesuatu menuju pada kesempurnaan atau kondisi yang lebih baik, sebagai mana kata taqwin merujuk pula pada bentuk yang sempurna(qiwam).

c. Fathanah

Fathanah diartikan sebagai kemahiran, atau penguasaan terhadap bidang tertentu, pada hal makna fathanah merujuk pada dimensi mental yang sangat mendasar dan menyeluruh. Seorang yang memilki sikap fathanah, tidak hanya menguasai bidangnya saja begitu juga dengan bidang-bidang yang lain.

d. Amanah

Amanah menjadi salah satu dari aspek dari ruhaniah bagi kehidupan manusia, seperti halnya agama dan amanah yang dipikulkan Allah menjadi titik awal dalam perjalanan manusia menuju sebuah janji. Janji untuk dipertemukan dengan Allah SWT, dalam hal ini manusia dipertemukan dengan dua dinding yang harus dihadapi secara sama dan seimbang antara dinding jama’ah didunia dan dinding kewajiban insan diakhirat nanti.

e. Tablig

Fitrah manusia sejak kelahirannya adalah kebutuhan dirinya kepada orang lain. Kita tidak mungkin dapat berkembang dan survive kecuali ada kehadiran orang lain. Seorang muslim tidak mungkin bersikap selfish, egois, atau ananiyah hanya mementingkan dirinya sendiri’. Bahkan tidak mungkin mensucikan dirinya tanpa berupaya untuk menyucikan orang lain.

Spiritual Intelligence adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan kerohanian yang berkorelasi dengan IQ (Intelligence Quotient) dan EQ (Emotional Quotient). Seperti EQ, Spiritual Intelligence menjadi lebih utama dalam penyelidikan ilmiah dan diskusi filosofis / psikologis. Ini merujuk kepada sekelompok atau serangkaian kecenderungan yang terdiri dari persepsi, intuisi, kognisi, yang berkaitan dengan spiritualitas dan/atau religiusitas, khususnya modal spiritual.

Model untuk mengembangkan dan mengukur Spiritual Intelligence juga semakin digunakan dalam pengaturan perusahaan, oleh perusahaan seperti Nokia, Unilever, McKinsey, Shell, Coca-Cola, Hewlett Packard, Merck Pharmaceuticals, Starbucks dan Co-operative Bank. Ini telah diidentifikasi sebagai komponen kunci dari kepemimpinan bisnis dengan penulis buku terlaris Stephen Covey, yang mengamati bahwa “Spiritual Intelligence adalah pusat dan paling mendasar dari semua intelijen/kecerdasan, karena itu menjadi sumber panduan bagi yang lainnya … “.

Howard Gardner, pencetus teori kecerdasan ganda, memilih untuk tidak memasukkan Spiritual Intelligence kedalam “kecerdasan” karena itu menentang kodifikasi ilmiah kriteria yang terukur (kuantitatif). Sebaliknya, Gardner menyarankan suatu “kecerdasan eksistensial” yang sesuai. Mitra Gardner telah merespon dengan penelitian grafik pemikiran eksistensial sebagai dasar spiritualitas. Namun, Gardner membentuk fondasi ilmiah dalam disiplin teori pendidikan dan interdisciplinarity, yang mengakibatkan munculnya wacana kecerdasan spiritual/ Spiritual Intelligence.

Pengetahuan dasar yang perlu dipahami adalah Spiritual Intelligence tidak mesti berhubungan dengan agama. Kecerdasan spiritual (Spiritual Intelligence) adalah kecerdasan jiwa yang dapat membantu seseorang membangun dirinya secara utuh. Spiritual Intelligence tidak bergantung pada budaya atau nilai. Tidak mengikuti nilai-nilai yang ada, tetapi menciptakan kemungkinan untuk memiliki nilai-nilai itu sendiri.

Spiritual Intelligence adalah fasilitas yang berkembang selama jutaan tahun yang memungkinkan otak untuk menemukan dan menggunakan makna dalam memecahkan persoalan. Utamanya persoalan yang menyangkut masalah eksistensial, yaitu saat seseorang secara pribadi terpuruk, terjebak oleh kebiasaan, kekhawatiran dan masalah masa lalu akibat penyakit dan kesedihan. Dengan dimilikinya Spiritual Intelligence, seseorang mampu mengatasi masalah hidupnya dan berdamai dengan masalah tersebut. Spiritual Intelligence memberi sesuatu rasa yang “dalam” pada diri seseorang menyangkut perjuangan hidup.

Spiritual Intelligence (SI) mengacu pada keterampilan, kemampuan dan perilaku yang diperlukan untuk mengembangkan dan mempertahankan hubungan dengan sumber utama dari semua (Tuhan YME), keberhasilan dalam menemukan makna hidup, menemukan cara moral dan etika untuk membimbing kita dalam hidup, mengeksternalisasi perasaan kita akan makna dan nilai-nilai dalam kehidupan pribadi kita dan dalam hubungan interpersonal kita.

Keterampilan dasar dan kemampuan Spiritual Intelligence berasal dari :

«  Kebijaksanaan intuitif

«  Pemahaman rasional, motivasi

«  Pengetahuan, keinginan dan niat

«  Kasih sayang dan cinta

«  Fokus kekuatan dan keadilan

«  Penyembuhan dan pengampunan

«  Hidup dengan semangat

«  Hidup dengan martabat, empati dan komitmen

«  Pelayanan dan  koneksi kreatif

«  Hidup dengan Spiritual Intelligence yang optimal

Spiritual Intelligence meliputi:

  • Kesadaran pandangan dunia mereka sendiri
  • Kesadaran tujuan hidup (misi)
  • Kesadaran dari hirarki nilai
  • Kompleksitas dalam berpikir
  • Kesadaran akan ego diri
  • Kesadaran akan hubungan sepanjang hidup
  • Kesadaran akan pandangan dunia orang lain
  • Persepsi terhadap waktu
  • Kesadaran akan keterbatasan / kekuatan dari persepsi manusia
  • Spiritual kesadaran hukum
  • Pengalaman kesatuan transenden
  • Komitmen untuk pertumbuhan rohani
  • Menjaga Higher Self yang bertanggung jawab
  • Mempwrtahankan tujuan hidup dan nilai-nilai
  • Mempertahankan iman Anda
  • Mencari bimbingan dari Spiritual
  • Seorang guru spiritual yang bijaksana dan efektif
  • Seorang agen perubahan yang bijak dan efektif
  • Membuat keputusan yang welas asih dan bijaksana
  • Ketenangan, menghadirkan penyembuhan
  • Berada selaras dengan pasang-surut aliran kehidupan

Orang yang mempunyai Spiritual Intelligent yang baik akan sesuai antara hati, kata dan perbuatannya, selaras antara apa yang ada dalam hatinya, ucapan  dan perbuatannya.

Orang yang cerdas emosi dan spiritual akan enak diajak bergaul, karena mereka telah terbebas dari su’udzon (buruk sangka, hasad, iri atau dengki) dan takabur (menyombongkan diri). Orang-orang inilah yang memiliki potensi untuk meraih sukses di dunia sekaligus sukses menikmati kehidupan surgawi di akhirat nanti.

Contoh Kasus :

Istri saya melanjutkan tulisannya ”Seperti yang kita ketahui angka perceraian setiap tahun terus meningkat, sebagian besar kasus perceraian saat ini adalah karena gugatan cerai dari pihak istri. Meningkatnya jumlah kasus perceraian khususnya cerai karena gugatan yang diajukan istri disebabkan oleh beberapa faktor antara lain oleh karena semakin banyak wanita yang telah mandiri secara finansial. Kemandirian istri secara finansial pada awalnya mempunyai tujuan yang mulia, disamping emansipasi wanita juga dengan bekerjanya istri sangat membantu keuangan keluarga. Tetapi dampak dari bekerjanya istri juga tidak kalah rumitnya. Pada perkawinan model baru, pria dan wanita ingin memiliki kedudukan yang setara,mereka membagi tugas rumah tangga dengan adil dan memutuskan bersama masalah masalah besar. Keduanya boleh bekerja di luar rumah. Ketika kelahiran anak anak, mereka berbagi tugas sama rata. Di atas kertas, semua terasa bagus, dan merupakan perbaikan dari perkawinan yang tidak sederajat di masa lalu. Pada kenyataanya, perubahan dari paradigma lama ke paradigma baru penuh rintangan dan hambatan. Adalah suatu kebohongan jika masyarakat menyatakan perkawinan sederajat (modern) lebih mudah daripada perkawinan tradisional. Yang benar menurutnya perkawinan sederajat mengizinkan kita menegosiasikan perbedaan dengan lebih adil tapi sering dengan kesulitan besar. Selain kebohongan tersebut diatas masih ada 6 enam lagi kebohongan perkawinan yang lainya, diantara yang cukup menarik adalah suatu kebohongan jika anak anak memperkuat perkawinan justru sebaliknya bahwa kehadiran anak bisa menjadi ancaman serius bagi perkawinan. Untuk mempertahankan perkawinan ternyata tak cukup hanya dengan cinta. Lepas dari setuju ataupun tidak dengan pendapatnya,buku ini tetap menarik untuk dibaca, ditulis dengan bahasa yang sederhana danmudah dicerna, dilengkapi dengan contoh kasus kasus nyata yang dialami oleh pasienya. Mungkin saja terasa menyakitkan jika dibaca oleh pembaca yang sedang atau sudah pernah mengalaminya. Akan tetapi tetap terasa manfaatnya bagi kita semua yang mempunyai komitmen untuk mempertahankan perkawinan sampai ajal menjemput.”

Bapak empat putra tersebut telah mengajarkan kepada kita, bahwa istrinya telah mengambil resiko besar dan sebenarnya juga tidak mau kakinya lumpuh. Istrinya telah berkorban banyak. Hal itu sesuai dengan firman Allah dalam surat An.Nisa 20 : ”Mereka (kaum istri) itu telah mengambil suatu perjanjian yang berat dari padamu sekalian”. Oleh karena itu kita memang harus berusaha untuk mempergauli istri kita dengan baik, berkomunikasi dnegan baik sebagai tanda kasih sayang. Tuhan juga menganjurkan kepada kita untuk mempergauli istri kita dengan baik. Kita juga perlu untuk berusaha tidak menyakiti hatinya, berusaha untuk mengajak bersendau-gurau dan memujinya untuk menyenangkan hatinya. Bahkan Rasulullah s.a.w. pernah bersabda kepada Jabir r.a. : ”Alangkah baiknya kalau istrimu itu seorang gadis yang engkau dapat bermain-main dengannya dan ia dapat bermain-main denganmu”(Bukhari dan muslim).

Bapak yang sederhana tersebut mampu mengalahkan salah satu musuh yang kita bertempur sepanjang hidup kita, yang merupakan penyakit hati yang besar dan tidak semua orang mampu mengalahkannya. Ia tetap mempergaulinya dengan baik, menyenangkan hatinya, melayaninya dengan luar biasa. Perang yang lebih besar dari Perang Badar adalah adalah perang mengalahkan hawa nafsu.

http://msuyanto.com/baru/?p=1410

spu

 

images (15)images (16)ke

 

Sumber :

Wigglesworth, Cindy. 2002. Spiritual Intelligence and Why It Matters.Dalam Conscious Pursuits.

www.consciouspursuits.com

http://en.wikipedia.org/wiki/Spiritual intelligence

http://sumsel.kemenag.go.id/file/dokumen/kecerdasanspiritual.pdf

Advertisements